Jumat, 07 November 2014

Gagasan Mengenai Ilmu Sosial, Antropologi Sebagai Ilmu Pengetahuan Sosial



Gagasan Mengenai Ilmu Sosial
Antropologi sebagai bagian dari ilmu sosial, kita akan memperoleh pemahaman dasar mengenai interaksinya dengan pemikirann-pemikian teori dalam disiplin-disiplin ilmu sosial lainnya, khususnya seperti sosiologi dan psikologi, yang sepanjang sejarah pembentukan antropologi besar pengaruhnya. Ilmu pengetahuan adalah suatu cara memperoleh atau mengumpulkan pengetahuan.
Suatu tantangan yang lebih signifikan bagi suatu ilmu social adalah yang dikaitkan dengan verstehen (pemahaman). Winch (1958) menegaskan bahwa penelitian ilmu sosial berbeda jenisnya dari kajian ilmiah fisik karena objek dari penelitian ilmiah sosial itu berespons terhadap kehadran ilmuan sosial. Jadi semata-mata mempelajari datantya ilmuan sosial mau tak mau akan mengubah mereka.
Di kalangan antropolog ada dua buku besar:
1.      orang-orang yang percaya bahwa ilmu sosial yang objektif itu mungkin saja dibangun dan mereka yakin bahwa semua kajian sosial tampaknya subjektif. Orang-orang yang mengikuti gagasan bahwa ilmu sosial itu objektif dikenal sebagai rasionalis atau positivis.
2.      sedangkan mereka yang mengikuti gagasan verstehen  dan argumen para fenomenolog dikenal sebagai relativis.
Antropologi Sebagai Ilmu Pengetahuan Sosial
            Antropologi adalah suatu persepektif ilmiah. Sebagian antropolog masa kini yakin bahwa perspektif antropologi diperoleh dari sifat komrehensif pendekatannya. Mereka beranggapan bahwa antropologi mencakup ciri-ciri ilmu fisika, ilmu-ilmu sosial, dan humanitis. Perbedaan antropologi dari disiplin-disiplin lain dari ilmu sosial terletak pada fakta bahwa antropolog membawa pandangan integrative, penyatuan, untuk membahas kondisi manusia. Perhatian sentral antropologi budaya adalah memahami dan menjelaskan kehidupan social manusia dan perilaku manusia, dan sasaran tersebut harus dicapai melalui penelitian ilmiah.
             Pelto dan Pelto (1989:24) :
Antropologi dapat dipandang ilmiah karena kajian ini meliputi kegiatan akumulasi pengetahuan yang sistematik dan dapat dipercaya mengenai suatu aspek universal yang dilaksanakan melalui pengamatan empiris dan diinterpretasi dalam konteks antar hubungan konsep-konsep yang lebih disukai bagi pengamatan empiris.
            Antropologi secara khusus dan ilmu pengetahuan secara umum adalah produk tradisi kebudayaan tertentu, dan perkembangan keduanya harus dipahami dalam konteks itu. Akan tetapi, memandang semua ilmu pengetahuan adalah etnosains, sebagaimana sebagian antropolog berpendapat, adalah ketidaktepatan dalam memahami ilmu pengetahuan. Apakah suatu suatu pendekatan ilmiah bernilai atau tidak adalah persoalan epistemologi, bukan persoalan kebudayaan atau sejarah. Menampilkan paradigm-paradigma  bersama justru membuka interaksi yang menggambarkan suatu totalitas konstelasi orientasi pemikiran teoretis dalam antropologi, yang hingga kini tetap relevan pada batas-batas tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar