ETOS KERJA DALAM ISLAM
A.
Pendahuluan
Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan
akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam
bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara
bekerja dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal.
Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tidak lepas dari kaitan
iman seseorang. Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat kerjanya juga
tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya dengan hal-hal
spiritual tetapi juga program aksi.
Artikel ini sendiri akan melihat pertama,
kerja sebagai manifestasi program mewujudkan tujuan hidup di muka bumi yakni
mencari Ridha Allah dengan mewujudkan diri sebagai khalifah di muka bumi.
Kedua, karakteristik pekerjaan di masa datang yang diperlukan umat Islam.
B. Manifestasi Mencari Ridha Allah
Sebenarnya umat Islam termasuk beruntung
karena semua pedoman dan panduan sudah terkodifikasi. Kini tinggal bagaimana
menterjemahkan dan menerapkan dalam kegiatan sehari-hari. Jika kita pandang
dari sudut bahwa tujuan hidup itu mencari Ridha Allah SWT maka apapun yang
dikerjakannya, apakah di rumah, di kantor, di ruang kelas, di perpustakaan, di
ruang penelitian ataupun dalam kegiatan kemasyarakatan, takkan lepas dari
kerangka tersebut, artinya: setiap pekerjaan yang kita lakukan, dilaksanakan
dengan sadar dalam kerangka pencapaian Ridha Allah. Cara melihat seperti ini
akan memberi dampak, misalnya, dalam kesungguhan menghadapi pekerjaan. Jika
seseorang sudah meyakini bahwa Allah SWT sebagai tujuan akhir hidupnya maka apa
yang dilakukannya di dunia tak dijalankan dengan sembarangan. Ia akan mencari
kesempurnaan dalam mendekati kepada Al Haq. Ia akan mengoptimalkan seluruh
kapasitas dan kemampuan inderawi yang berada pada dirinya dalam rangka
mengaktualisasikan tujuan kehidupannya. Ini bisa berarti bahwa dalam bekerja ia
akan sungguh-sungguh karena bagi dirinya bekerja tidak lain adalah ibadah, pengabdian
kepada Yang Maha Esa. Lebih seksama lagi, ia akan bekerja – dalam bahasa
populernya – secara profesional.
Apa
sebenarnya profesional itu ? Dalam khasanah Islam mungkin bisa dikaitkan dengan
padanan kata ihsan. Setiap manusia, seperti diungkapkan Al- Qur’an,
diperintahkan untuk berbuat ihsan agar dicintai Allah. Kata Ihsan sendiri
merupakan salah satu pilar disamping kata Iman dan Islam. Dalam pengertian yang
sederhana, ihsan berarti kita beribadah kepada Allah seolah-olah Ia melihat
kita. Jikalau kita memang tidak bisa melihat-Nya, tetapi pada kenyataannya
Allah menyaksikan setiap perbuatan dan desir kalbu kita. Ihsan adalah perbuatan
baik dalam pengertian sebaik mungkin atau secara optimal.
Hal itu tercermin dalam Hadis Riwayat
Muslim yang menuturkan sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya Allah mewajibkan
ihsan atas segala sesuatu. Karena itu jika kamu membunuh, maka berihsanlah
dalam membunuh itu dan jika kamu menyembelih, maka berihsanlan dalam
menyembelih itu dan hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan menenangkan
binatang sembelihannya itu.
Menurut Nurcholis Madjid, dari konteks
hadis itu dapat disimpulkan bahwa ihsan berarti optimalisasi hasil kerja dengan
jalan melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin, bahkan sesempurna mungkin.
“Penajaman pisau untuk menyembelih” itu merupakan isyarat efisiensi dan daya
guna yang setinggi-tingginya. Allah sendiri mewajibkan ihsan atas segala
sesuatu seperti tercermin dalam Al Qur’an. Yang membuat baik, sebaik-baiknya
segala sesuatu yang diciptakan-Nya. (32:7).
Selanjutnya Allah juga menyatakan telah
melakukan ihsan kepada manusia, kemudian agar manusia pun melakukan ihsan. Dan
carilah apa yang dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan kebahagiaan dunia, dan berbuat ihsanlah kepada orang
lain sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu , dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan. (28:77).
Dari keterangan hadis dan uraian Al Qur’an
jelaslah bahwa setiap Muslim harus menjadi seorang pekerja yang profesional.
Dengan demikian ia melaksanakan salah satu perintah Allah untuk berbuat ihsan
dan juga mensyukuri karunia Allah berupa kekuatan akal dan fisiknya yang
diberikan sebagai bekal dalam bekerja. Mengabaikan potensi akal dan fisik ini
atau tidak “menajamkannya” bisa bermakna tidak mensyukuri nikmat dan karunia
Ilahi Rabbi.
C. Karakteristik pekerjaan mendatang
Berbagai trend telah memperlihatkan bahwa
bentuk pekerjaan mendatang tidak hanya mengandalkan fisik tetapi juga otak. Al
Qur’an dalam berbagai ayat sudah mengajak manusia untuk berpikir, membandingkan
dan menggunakan akal dalam menghayati kehidupan dan mengarungi samudera
kehidupan. Peter Drucker, salah seorang pakar manajemen, tahun 1960-an sudah
memperingatkan akan datangnya “Knowledge
Society”.
Dalam masyarakat jenis ini banyak bentuk
kegiatan ekonomi dan pekerjaan dilakukan berdasarkan kepadatan pengetahuan. Ia
memberi contoh mengetik. Dulunya dengan memencet tuts orang bisa membuat
kalimat, tetapi sekarang dengan adanya komputer sebelum memencet tuts harus
dimiliki serangkaian pengetahuan cara bekerja perangkat lunaknya.
Pakar manajemen lainnya seperti Charles
Handy, Michael Hammer atau Gary Hamel ataupun futurolog seperti John Naisbit
dan Alvin Tovler sudah meramalkan jauh-jauh hari akan datangnya jenis pekerjaan
otak ini. Dalam ungkapan Handy, aset sebuah organisasi tidak lagi terletak pada
properti atau benda-benda fisik lainnya tetapi pada sumber daya manusia. Dan
inti dari sumber daya manusia itupun adalah otaknya.
Sebenarnya kalau kita cermat, Al Quran
sudah mengisyaratkan akan lahirnya masyarakat pengetahuan itu dengan ungkapan
di ayat pertama, Iqra. Hanya tinggal manifestasi saja bagaimana Iqra itu
menjadi jalan kehidupan umat Islam, bukan sebagai jargon yang yang dilafalkan.Membumikan
istilah Iqra itulah merupakan tantangan umat Islam sehingga tidak ketinggalan
dalam budaya masyarakat pengetahuan.
Mengutip istilah Deputi PM Anwar Ibrahim, umat Islam itu harus mampu
menyumbangkan bagi peradaban yang hidup di dunia, sejajar dengan peradaban
lainnya. Dengan demikian etos kerja harus merupakan bagian dari tradisi umat
Islam, bukan tradisi masyarakat lain.
Sering muncul
pernyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki etos kerja yang rendah. Secara
sosiologis kita harus mengakui bahwa umat Islam merupakan bagian terbesar dari
bangsa ini. Bertolak dari realita ini, umat Islam Indonesia dengan ajaran
Islamnya merupakan kelompok yang pertama kali bertanggungjawab terhadap
pembinaan dan pengembangan etos kerja bangsa tercinta.
Etos kerja yang rendah ini, ber-implikasi menempatkan umat Islam dalam
ekonomi. Kelompok terbesar dari bangsa ini sering dikalahkan dalam bidang
ekonomi oleh kelompok minoritas tanpa rnelalui perebutan kekuasaan, tetapi
cukup melalui solidaritas antara sesama mereka. Untuk melakukan perbaikan
ekonomi ini, etos kerja yang tinggj perlu dimiliki, seperti peningkatan sumber
daya manusia.
Padahal Rasulullah yang menjadi tokoh sentral umat Islam adalah
seorang pengemban amanah yang luar biasa universal dan multikomplek. Beliau
seorang pemimpin negara, Kepala rumah tangga, narasumber dari berbagai permasalahan
umat, seorang pengusaha, Abdul yatama (bapak dari banyak anak asuh) dll.
Seluruh amanah tersebut sangat mustahil dapat terselesaikan tanpa didukung
dengan etos kerja yang baik. Maka saat kita berbicara tentang etos kerja Islami,
maka beliaulah orang yang paling pantas menjadi contoh bagaimana beliau
menjalankan peran-peran dalam hidupnya.
D.
Konsep Kerja dalam Islam
“Bekerjalah
kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat
pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan
yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan” (al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 105)
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum mereka mengubah apa yang ada
pada dirinya. (al-Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 11). “dan bahwasannya
seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.
(al-Qur’an Surat Al-Najm ayat 39).
Kemuliaan seorang
manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya. Dengan itu, sesuatu
amalan atau pekerjaan yang mendekatkan seseorang kepada Allah adalah sangat
penting serta patut untuk diberi perhatian. Amalan atau pekerjaan yang
demikian selain memperoleh keberkahan serta kesenangan dunia, juga ada yang
lebih penting yaitu merupakan jalan atau tiket dalam menentukan tahap kehidupan
seseorang di akhirat kelak, apakah masuk golongan ahli surga atau sebaliknya. Istilah
‘kerja’ dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk
menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari
pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala
bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi
diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara.
Islam
menempatkan kerja atau amal sebagai kewajiban setiap muslim. Kerja bukan
sekedar upaya mendapatkan rezeki yang halal guna memenuhi kebutuhan hidup,
tetapi mengandung makna ibadah seorang hamba kepada Allah, menuju sukses di
akhirat kelak. Oleh sebab itu, muslim mesti menjadikan kerja sebagai kesadaran
spiritualnya.
Dengan
semangat ini, setiap muslim akan berupaya maksimal dalam melakukan
pekerjaannya. la berusaha menyelesaikan setiap tugas dan pekerjaan yang menjadi
tanggungjawabnya dan berusaha pula agar setiap hasil kerjanya menghasilkan
kualitas yang baik dan memuaskan. Dengan kata lain, ia akan menjadi orang yang
terbaik dalam
setiap bidang yang ditekuninya. Ada dua tahapan yang harus dilakukan seseorang agar prestasi kerja meningkat dan kerjapun bernilai ibadah.
setiap bidang yang ditekuninya. Ada dua tahapan yang harus dilakukan seseorang agar prestasi kerja meningkat dan kerjapun bernilai ibadah.
1. Kerja Ikhlas : Betapa banyak para pekerja dalam melaksanakan
pekerjaannya dengan tekun, cerdas, gigih dan penuh tanggungjawab namun jauh
dari nilai-nilai keikhlasan akhirnya menjadi petaka. Bekerja dengan dilandasi
keikhlasan adalah suatu keharusan agar materi dari hasil kerja didapat
sementara pahala diraih. Sesuai dengan doa yang seringkali dibaca ‘fiddunya
hasanah wafil akhiroti hasana…”Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah
dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu
akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata,
lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (al-Qur’an
Surat At-Taubah ayat 105)
2. Kerja keras dan cerdas : Ukuran kerja keras adalah kesempatan
berbuat, tanpa pamrih, bekerja maksimal dan Kepasifan dalam menghadapi
pekerjaan membatasi seseorang tidak berusaha meningkatkan kemampuan
profesionalismenya. Profesionalisme biasanya dijadikan ukuran dalam peningkatan
prestasi di setiap pekerjaan. Dalam mengerjakan sesuatu, seorang muslim selalu
melandasinya dengan mengharap ridha Allah. Ini berimplikasi bahwa ia tidak
boleh melakukan sesuatu dengan sembrono, sikap seenaknya, dan secara acuh tak
acuh. Sehubungan dengan ini, optimalisasi nilai hasil kerja berkaitan erat
dengan konsep ihsan. Ihsan berkaitan dengan etos kerja, yaitu melakukan
pekerjaan dengan sebaik mungkin, sesempurna mungkin atau seoptimal mungkin
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum mereka mengubah apa yang ada
pada dirinya. (al-Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat 11).
“dan bahwasannya seorang manusia tidak akan
memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (al-Qur’an Surat
Al-Najm ayat 39).
Dengan kata
lain, orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya
untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang
lain. Oleh karena itu, kategori ahli Syurga seperti yang digambarkan
dalam Al-Qur’an bukanlah orang yang mempunyai pekerjaan/jabatan yang
tinggi dalam suatu perusahaan/instansi sebagai manajer, direktur, teknisi
dalam suatu bengkel dan sebagainya. Tetapi sebaliknya Al-Quran
menggariskan golongan yang baik lagi beruntung (al-falah) itu adalah orang yang
banyak taqwa kepada Allah, khusyu sholatnya, baik tutur katanya, memelihara
pandangan dan kemaluannya serta menunaikan tanggung jawab sosialnya seperti
mengeluarkan zakat dan lainnya.
Golongan ini
mungkin terdiri dari pegawai, supir, tukang sapu ataupun seorang yang tidak
mempunyai pekerjaan tetap. Sifat-sifat di ataslah sebenarnya yang
menjamin kebaikan dan kedudukan seseorang di dunia dan di akhirat
kelak. Jika membaca hadits-hadits Rasulullah SAW tentang ciri-ciri
manusia yang baik di sisi Allah, maka tidak heran bahwa diantara mereka itu ada
golongan yang memberi minum anjing kelaparan, mereka yang memelihara mata,
telinga dan lidah dari perkara yang tidak berguna, tanpa melakukan amalan
sunnah yang banyak dan seumpamanya.
E. Etos Kerja Rasulullah sebagai uswah
(contoh)
Rasulullah
SAW menjadikan kerja sebagai aktualisasi keimanan dan ketakwaan. Rasul bekerja
bukan untuk menumpuk kekayaan duniawi. Beliau bekerja untuk meraih keridaan
Allah SWT.Suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz
Al-Anshari. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong
kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya
Rasul kepada Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku
seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah
keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad
dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh
api neraka”.
Dalam kisah
lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah
SAW. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat
kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat
digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul
pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil,
itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya
yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk
kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.”
(HR Ath-Thabrani).
Bekerja
adalah manifestasi amal saleh. Bila kerja itu amal saleh, maka kerja adalah
ibadah. Dan bila kerja itu ibadah, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan
dari kerja. Bukankah Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya?
Kisah di awal
menggambarkan betapa besarnya penghargaan Rasulullah SAW terhadap kerja. Kerja
apapun itu selama tidak menyimpang dari aturan yang ditetapkan agama. Demikian
besarnya penghargaan beliau, sampai-sampai dalam kisah pertama, manusia
teragung ini “rela” mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari yang melepuh
lagi gosong. Rasulullah SAW, dalam dua kisah tersebut, memberikan motivasi pada
umatnya bahwa bekerja adalah perbuatan mulia dan termasuk bagian dari jihad.
Rasulullah
SAW adalah sosok yang selalu berbuat sebelum beliau memerintahkan para sahabat
untuk melakukannya. Hal ini sesuai dengan tugas beliau sebagai ushwatun
hasanah; teladan yang baik bagi seluruh manusia. Maka saat kita berbicara
tentang etos kerja islami, maka beliaulah orang yang paling pantas menjadi
rujukan. Dan berbicara tentang etos kerja Rasulullah SAW sama artinya dengan
berbicara bagaimana beliau menjalankan peran-peran dalam hidupnya. Ada lima peran penting yang diemban
Rasulullah SAW, yaitu :
1. Sebagai Rasul. Peran ini beliau jalani selama 23 tahun. Dalam kurun
waktu tersebut beliau harus berdakwah menyebarkan Islam; menerima, menghapal,
menyampaikan, dan menjelaskan tak kurang dari 6666 ayat Alquran; menjadi guru
(pembimbing) bagi para sahabat; dan menjadi hakim yang memutuskan berbagai
pelik permasalahan umat-dari mulai pembunuhan sampai perceraian.
2.
Sebagai
kepala negara dan pemimpin sebuah masyarakat heterogen. Tatkala memegang posisi
ini Rasulullah SAW harus menerima kunjungan diplomatik “negara-negara sahabat”.
Rasul pun harus menata dan menciptakan sistem hukum yang mampu menyatukan kaum
Muslimin, Nasrani, dan Yahudi, mengatur perekonomian, dan setumpuk masalah
lainnya.
3. Sebagai panglima perang. Selama hidup tak kurang dari 28 kali Rasul
memimpin pertempuran melawan kafir Quraisy. Sebagai panglima perang beliau
harus mengorganisasi lebih dari 53 pasukan kaveleri bersenjata. Harus
memikirkan strategi perang, persedian logistik, keamanan, transportasi,
kesehatan, dan lainnya.
4.
Sebagai kepala rumahtangga. Dalam posisi ini Rasul
harus mendidik, membahagiakan, dan memenuhi tanggung jawab-lahir
batin-terhadap para istri beliau, tujuh anak, dan beberapa orang cucu.
Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat perhatian terhadap keluarganya. Di
tengah kesibukannya Rasul pun masih sempat bercanda dan menjahit sendiri
bajunya.
5. Sebagai seorang pebisnis. Sejak usia 12 tahun pamannya Abu Thalib
sudah mengajaknya melakukan perjalanan bisnis ke Syam, negeri yang saat ini
meliputi Syria,
Jordan,
dan Lebanon.
Dari usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan
bisnis Rasul karena beliau harus mandiri dan bersaing dengan pemain pemain
senior dalam perdagangan regional. Usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik
keemasan entrepreneurship Rasulullah SAW terbukti dengan “terpikatnya”
konglomerat Mekah, Khadijah binti Khuwailid, yang kemudian melamarnya menjadi
suami. Afzalurrahman dalam bukunya, Muhammad Sebagai Seorang Pedagang (2000:
5-12), mencatat bahwa Rasul pun sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke
berbagai negeri seperti Yaman, Oman, dan Bahrain. Dan beliau mulai mengurangi
kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Adalah kenyataan bila
Rasulullah SAW mampu menjalankan kelima perannya tersebut dengan sempurna,
bahkan menjadi yang terbaik. Tak heran bila para ilmuwan, baik itu yang Muslim
maupun non-Muslim, menempatkan beliau sebagai orang yang paling berpengaruh.
F.
Kesimpulan
Bekerja
adalah manifestasi amal saleh. Bila kerja itu amal saleh, maka kerja adalah
ibadah. Dan bila kerja itu ibadah, maka kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan
dari kerja. Bukankah Allah SWT menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya
Seorang muslim dalam mengerjakan sesuatu selalu melandasinya dengan
mengharap ridha Allah. Ini berimplikasi bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu
dengan sembrono, sikap seenaknya, dan secara acuh tak acuh. Sehubungan dengan
ini, optimalisasi nilai hasil kerja berkaitan erat dengan konsep ihsan. Ihsan
berkaitan dengan etos kerja, yaitu melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin,
sesempurna mungkin atau seoptimal mungkin. Allah mewajibkan atas segala
sesuatu, sebagaimana firman-Nya, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya“. (QS. As-Sajdah ayat 7).
Selain itu
muslim pun dalam dianjurkan mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh dan
teliti sehingga rapi, indah, tertib dan bersesuaian dengan yang lain dari
bagian-bagiannya. Allah SWT berfirman, “Seni ciptaan Allah yang membuat dengan
teliti (atqana) segala sesuatu” (QS. An-Naml ayat 88).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar