Kamis, 17 Januari 2013

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH


AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
AL-ASY’ARI
            Ahlussunnah wal jama’ah / sunni dapat dibedakan menjadi dua pengertian, dalam pengertian umum adalah lawan kelompok syi’ah. Dalam pengertian ini, mu’tazilah sebagaimana juga asy’ariyah masuk dalam barisan sunni. Sunni dalam pengertian khusus adalah madzhab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan mu’tazilah.
            Ahlussunnah muncul atas keberanian dan usaha Abu Al Hasan Al Asy’ari sekitar tahun 300 H.
1.      Riwayat hidup Al Asy’ari
Nama lengkap Al Asy’ari adalah Abu Al Hasan Ali bin Ismial bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al Asy’ari. Lahir di Bashrah pada tahun 260 H / 875 M. ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324 H / 935 M.
Berkat ayah tirinya yaitu Abu Ali Al Jubba’I, Hasan Al Asy’ari menganut mu’tazilah. Ia menganut paham mu’tazilah hanya sampai usia 40 tahun. Asy’ari meninggalkan mu’tazilah karena ia telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah pada malam ke 10, 20 dan 30 bulan Ramadhan yang memperingatkannya agar meniggalkan paham mu’tazilah dan membela paham yang telah diriwayatkan dari beliau.
2.      Doktrin teologi Al Asy’ari
a.      Tuhan dan sifatNya
Allah memiliki sifat-sifatNya tetapi tidak boleh diartikan secara harfiyah, melainkan secara simbolis. Sifat-sifat Allah berbeda dengan Allah sendiri, tetapi sejauh menyangkut realitasnya (haqiqah) tidak terpisah dari esensiNya. Dengan demikian tidak berbeda denganNya.
b.      Kebebasan dalam berkehendak ( Free-will)

Al Asy’ari membedakan antara khlaiq dan Kasb. Menurutnya, Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri yang mengupayakannya (mukhtasib).
c.       Akal dan wahyu & criteria baik dan buruk
Asy’ari mengutamakan wahyu dibandingkan akal. Serta baik dan buruk itu berdasarkan pada wahyu.
d.      Qadimnya Al Qur’an
Walaupun Al Qur’an terdiri dari kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak qadim. Nasution mengatakan bahwa Al Quran bagi Asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, sesuai dengan ayat :
$yJ¯RÎ) $uZä9öqs% >äóÓy´Ï9 !#sŒÎ) çm»tR÷Šur& br& tAqà)¯R ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù ÇÍÉÈ  
“Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", Maka jadilah ia.” (Q.S. An Nahl [14] : 40)
e.       Melihat Allah
Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan tentu atas kehendak Allah.
f.       Keadilan
Allah adalah pemilik mutlak, jadi Allah tidak memiliki keharusan apapun untuk menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik, karena Ia adalah penguasa mutlak.
g.      Kedudukan orang berdosa
Mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufur.
            Abu Hasn Al Asy’ari dalam kitabnya yang berjudul Al Ibanah dan Alluma’ menuliskan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah Asy’ari sebagai berikut :
1.      Rukun iman ada enam
2.      Orang yang berbuat dosa besar itu tidak kafir.
3.      Orang Islam yang disiksa di neraka itu tidak abadi
4.      Membenarkan khalifah yang empat.
5.      Membenarkan keluarnya Dajjal
6.      Membenarkan dan membolehkan sedekah yang pahalanya untuk orang yang sudah meninggal
7.      Membenarkan dan membolehkan amal shaleh yang pahalanya untuk orang yang sudah meninggal
8.      Membenarkan karomah
9.      Sunnah/hadits dijadikan sebagai hujjah
10.  Melihat Allah dengan mata kepala di surga
11.  Manusia memiliki kasb (usaha), tapi wajib berdo’a. setelah itu tawakkal.
12.  Ketentuan itu berasal dari Allah ( Qodho dan Qodar)
13.  Allah menciptakan perbuatan
14.  Allah punya sifat
15.  Al Qur’an bukan makhluk, tapi Qadim
16.  Rasulullah memiliki syafa’at. Cara manusia agar mendapat syafa’at dari Rasulullah adalah sebagai berikut :
a.       Bertaqwa kepada Allah
b.      Mencintai Rasulullah
c.       Menjalankan apa yang diridhoi Allah dan RasulNya
d.      Perbanyak membaca sholawat.
17.  Baik dan buruk hanya diketahui dengan wahyu.
18.  Kewajiban dan larangan hanya diketahui dengan wahyu
19.  Keadilan Allah berbeda dengan konsep keadilan manusia.
20.  Mu’min yang berbuat dosa besar itu tidak kafir, tapi fasik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar