Kamis, 17 Januari 2013

Manusia untuk berfilsafat

Ada 3 hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat:
  1. Keheranan/ kekaguman
      Banyak filsuf menunjukkan rasa heran sebagai asal filsafat. Plato mengatakan: “mata kita memberi pengamatan bintang2, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan iniberasal filsafat (anda bertanya: apa bedanya dengan ilmu pengetahuan?)
  1. Kesangsian
      Agustinus dan Descartes menunjukkan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran, tetapi kemudian ragu2, sangsi. Sikap ini disebut skeptis (Yunani: skepsis: penyelidikan) sangat berguna untuk menemukan suatu titik pangkal yang tak teragukan lagi. Fungsinya sebagai dasar untuk semua pengetahuan lebih lanjut…..
  1. Kesadaran akan keterbatasan
      Manusia mulai berfilsafat kalau ia menyadari betapa lemah dan kecil dirinya dibanding alam semesta di sekelilingnya. Semakin manusia terpukau oleh ketakterhinggaan sekelilingnya, semakin ia heran akan eksistensinya (keberadaan). Semakin jelas saya sendiri atau sesuatu di luar saya kelihatan terbatas, semakin jelas juga bahwa harus ada sesuatu yang tak-terbatas, ketakterhinggaan yang membatasi segala hal. (Ibn Rusyd, mempelajari filsafat itu wajib).
Pendapat lain:
  A. Kekaguman/keheranan
Mula2 orang heran/kagum menyaksikan kehidupannya yang berkaitan dengan persoalan dirinya dan lingkungan sekitarnya.
  B. keingintahuan (curiousity)
Dari itu melakukan permenungan (individual/ kolektif) seperti pandangan hidup dan kata mutiara.
Ciri berfikir filsafat :
  1. Kritis
      Tidak boleh menerima gagasan, konsep, pengertian suatu hal secara begitu saja dan membabi buta (taklidi), tapi secara aktif selalu mempertanyakan terlebih dahulu (terhadap objek apapun).
  1. Radikal
      Radix (inggris) artinya akar, jadi pemikiran filsafat bersifat mengakar, tidak terbatas pada kulit luar masalah, tetapi ditelusuri dan dikaji hingga substansi yang terdalam.
  1. Konseptual
      Pemikiran filsafat merupakan aktivitas akal budi manusia untuk memperoleh pengertian.
  1. Koheren
      Artinya runtut, alur pemikiran yang teratur. Berfikir filsafati dilakukan secara runtut dan logis. Benar tidaknya pemikiran filsafat dilihat dari keruntutan cara berfikirnya.
  1. Rasional
       Pemikiran filsafat harus masuk akal dan dapat dinalar, tidak bersifat khayalan dan irrasional.
  1. Komprehensif
       Artinya menyeluruh. Terhadap objek yang dipikirkannya, filsafat tidak parsial/sepotong2. contoh, mengkaji hakikat manusia, bukan sebatas manusia Jawa, Sunda, Arab, Eropa, tetapi manusia secara keseluruhan.
  1. Sistematis
      Pemikiran filsafat merupakan keterkaitan antar bagian, sehingga membentuk kesatuan pengertian yang utuh dan integral.
ILMU DAN PENGETAHUAN
}  Pengetahuan adalah hasil cerapan indera manusia terhadap semua fenomena di sekitarnya. (produk dari aktivitas indera disebut pengetahuan biasa/knowledge/ commo sense.
}  Dapat dikatakan pengetahuan merupakan hasil tahu, hasil pemahaman atau hasil cerapan indera manusia terhadap hal/sesuatu yang dihadapinya (objek). Objek ini berupa benda-benda fisik-material dan hal-hal spiritual (rohani), yang pemahamannya ,dicapai melalui persepsi, baik indera maupun budi.
PENGETAHUAN ADA 2 MACAM
}  1) Pengetahuan pra-ilmiah (knowledge), adalah hasil cerapan indera manusiai
}  2) Pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan/science), adalah pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu berobjek, bersistem, bermetode dan kebenarannya bersifat universal. Atau pengetahuan biasa hasil cerapan indera manusia terhadap fenomena empirik yang didapatkannya dari objek yang jelas, memakai metode tertentu, dirangkum dalam sebuah sistem dan kebenarannya berlaku umum.
}  Prof Dr. Ashley Montagu, Gubes Antro pada Univ. Rutgers:
}  science is a sistematized knowledge derived from observation, study and experimentation curried on order to (supaya) determine (menentukan) the nature of principles of what being studied.
SYARAT-SYARAT ILMIAH
}  1) objek, baik ilmu dan pengetahuan keduanya punya objek, namun ilmu, selain berobjek materia-sasaran yang dikaji , materi yang diselidiki-, juga berobjek forma yaitu sudut pandang yang digunakan dalam pengkajian tersebut. Objek formallah yang membedakan ilmu satu dengan lainnya. Ex: ilmu kedokteran & psikologi, OM: manusia, OF: kedokteran, segi kesehatan jasmani, psikologi, kesehatan mental.
}  2) metode, adalah cara yang digunakan ilmu untuk mendapatkan kebenaran. Ada banyak metode dalam ilmu, berbeda antara ilmu eksakta dan non-eksakta.
}  3) sistematis, ilmu harus merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh, dimana antar bagiannya saling berhubungan, baik interelasi (saling hubungan) atupun interdepedensi (saling tergantung) ex: sistem tubuh
}  4) universal, kebenaran ilmu berlakunya tidak dibatasi ruang, waktu, keadaan dan sikon tertentu.secara menyeluruh berlaku dimana dan kapan pun.
SIFAF KEBENARAN ILMU, FILSAFAT
 DAN AGAMA
}  Kebenaran ilmu bersifat relatif. Artinya dalam kurun waktu tertentu kebenarannya bersifat universal hingga muncul teori lain yang menggugurkannya. Ex: teori geosentris  digantikan teori heliosentris.
}  kebenaran filsafat bersifat spekulatif. Artinya  pendapat filsuf berada diluar kriteria benar atau salah. Dua filsuf yang berbeda pandangan (beda waktu/tidak) tidak dapat diputuskan satu benar dan lainnya salah, keduanya punya peluang sama untuk benar maupun salah, kebenarannya tergantung logis dan rasionalnya argumen yang diajukan.
}  Kebenaran agama bersifat mutlak. Kemutlakan /kepasti benarannya dimungkinkan karena bersangkutan dengan keyakinan pemeluknya dan berasal dari wahyu.
KORELASI AGAMA DAN FILSAFAT
}  1) Pandangan Ibn Rusyd (dalam Fashl maqal)
}  Pandangannya memadukan (akal dan wahyu) keduanya yang dianggap dua kutub yang tidak bisa bertemu menurut Al-Ghazali.
}  Apa hukum mempelajari filsafat?, Ibn Rusyd berkata: kami berkata bila filsafat itu tidak lebih dari pada menalar hal-hal yang ada (wujud) dan merenungkannya sebagai bukti akan adanya pencipta- yaitu dari segi bahwa segala wujud ini adalah ciptaan sehingga merupakan petunjuk adanya pencipta itu setelah diketahui tentang segi penciptaan padanya-maka semakin sempurna pengetahuan itu, semakin sempurna pula pengetahuan tentang pencipta. Karena syara’ telah memerintahkan dan mendorong kita untuk mempelajari segala yang ada, maka jelas pengertian ini menunjukkan bahwa mempelajari filsafat adalah perintah wajib atau perintah anjuran (mandub).
}  Filsafatkan bukan berasal dari islam? bagi Ibn Rusyd, tidak ada salahnya kalau kita melihat orang lain yang sudah melakukannya walaupun mereka tidak seagama dengan kita. Hal itu persis pisau untuk menyembelih hewan, apakah pisau itu milik seorang muslim atau tidak, sama sekali tidak ada implikasi hukum apa-apa. Hanya saja kita harus bersikap kritis analitis terhadap karya mereka. Apabila seluruhnya benar, maka haruslah diterima dan apabila sebaliknya maka haruslah ditolak dan dikritik. Mengenai larangan para ahli yang memenuhi syarat berfilsafat (kecerdasan alami, keadilan menurut syara’, keunggulan ilmiah dan moral) karena khawatir akan menyesatkan orang-orang awam, maka orang yang melarang itu seperti orang yang melarang orang dahaga meminum air jernih dingin sehingga meninggal dengan alasan ada sementara orang yang mati gara-gara meminumnya. Padahal sebenarnya mereka yang mati setelah meminum air dingin itu adalah karena kebetulan saja sedangkan kalau meninggal karena kehausan itulah yang wajar. Ketergelinciran yang dikhawatirkan terjadi pada orang yang berfilsafat, bisa terjadi pada orang lain yang berkiprah di bidang fiqh, toh tidak ada yang melarang orang berkiprah dalam bidang fiqh.
}  2) Penjelasan Ibn Thufail dalam novel filsafatnya berjudul Hayy ibn Yaqzhan.
Isinya pembuktian akan kesesuaian antara kebenaran rasional dan agama.
Ditinggal di pulau terpencil, Hayy hidup sebatang kara diasuh dan disusui oleh seekor rusa. Kematian rusa karena disfungsi jantung yang tiba2 membuatnya menarik kesimpulan bahwa kematian itu terpisahnya jiwa dan raga. Sampai akhirnya sampai kepada pengetahuan tentang wujud mutlak
Di pulau sebelah, hidup dua orang pemuda yakni absal dan salaman, keduanya menganut suatu agama, Absal cenderung pada makna bathin dan Salaman cenderung pada makna lahir.
Suatu hari Absal tiba di pulau Hayy, keduanya berdiskusi dan sampai kepada satu ksimpulan bahwa apa yang termaktub dalam kitab suci mengenai Allah, malaikat, kitab2, rasul2, surga dan neraka merupakan representasi dari istilah2 inderawi-dari kebenaran spiritual yang pernah dialami oleh hayy secara langsung. Begitupun Hayy, apayang diceritakan Absal kepadanya tentang wahyu sesuai dengan apa yang dialaminya.
Kesimpulan, kebenaran bisa dicapai dengan diskursus filosofis dan pencerahan mistik (kasyf)..sedang bagi awam yang tidak mampu mencapainya,pemahaman harfiah kitab sucilah jawabannya tanpa banyak bertanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar